sieradMU.com Kota – Persoalan penyebaran covid-19 masih menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Klaten. Untuk itu Pemkab setempat mendorong seluruh pedagang di pasar tradisional untuk menerapkan transaksi online dalam rangka menerapkan protokol pencegahan Covid-19 berkaitan physical distancing.

“Sejak penyebaran Covid-19 masif kita terus galakan untuk transaksinya dengan sistem online. Apalagi himbauan dari pemerintah terkait pembatasan sosial sehingga pembelian di pasar perlu dioptimalkan dengan sistem online.” Jelas Kepala Seksi (Kasi) Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan, Dinas Perdagangan, Koperasi dan UMKM, Dewi Wismaningsih, Jumat (15/5/2020).

Lebih lanjut, Dewi mengakui penerapan sistem online dalam transaksi jual beli oleh pedagang pasar tradisional belum maksimal. Hanya mengandalkan aplikasi chat seperti whatsapp hingga pesan singkat (SMS). Padahal layanan seperti jasa ojek online tersedia tetapi belum dimanfaatkan.

Dewi mengatakan, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang membuat transaksi online belum berjalan optimal. Tetapi Disdagkop dan UMKM terus melakukan pembinaan kepada pedagang pasar tradisional. Diharapkan dengan berjalanan transaksi secara online menjadikan produk yang dijual tetap laku di tengah pandemi korona.

“Terus terang kalau secara global untuk dijadikan satu dalam aplikasi belum kita miliki. Selama ini setiap usaha memiliki aplikasi masing-masing. Seperti sejumlah swalayan yang ada di Klaten sudah menerapkan dengan adanya biaya pengantara tergantung jaraknya,” jelas Dewi.

Diakuinya, dampak dari Covid-19 menjadikan pembelian secara langsung kebutuhan sembako di pasar tradisional mengalami penurunan. Terlebih lagi pemerintah telah mengkampanyekan  belanja dari rumah. Maka itu kondisi di tengah keterbatasan diperlukan terobosan dengan transaksi secara online sehingga lebih optimal.

Sementara itu, salah satu pedagang sembako Pasar Induk Klaten, Rubiyem, 69, mengungkapkan jika Covid-19 memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap penjualannya. Penurunan penjualan produk sembakonya hingga mencapai 50 persen karena sepinya pembeli.

“Biasanya yang menjadi langganan belanja di tempat saya ini mulai dari rumah makan restoran hingga catering. Tapi karena pada tutup akibat Covid-19 ini sehingga yang membeli hanya skala ibu rumah tangga. Jadi beberapa ketersediaan kebutuhan sembako mulai kami kurangi,” jelasnya.

Diakuinya jika selama ini transaksi yang diterapkan masih konvensional dengan menunggu pembeli datang ke kiosnya. Dirinya mengharapkan Covid-19 segera berlalu sehingga kondisi bisa pulih kembali.

Reporter : Nur Muhammad – Editor : Dinda