sieradMU.com solo —Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surakarta menggelar Konferensi Kota (Konferta) VII, Sabtu (17/7/2021) secara virtual.

Konferta yang mengusung tema Tetap Kritis di Masa Krisis itu menetapkan Cahyadi Kurniawan dan Mariyana Ricky P.D. sebagai Ketua dan Sekretaris periode 2021-2024. Keduanya terpilih secara aklamasi, menggantikan kepengurusan periode 2018-2021, Adib Muttaqin Asfar dan Chrisna Chanis Chara.

Kepengurusan lama sempat dicalonkan lagi namun urung karena keduanya tidak bersedia. Ketua Panitia Konferta VII AJI Surakarta, Mariyana, mengatakan tema tersebut dipilih karena jurnalis tengah menghadapi situasi krisis di masa Pandemi. Tak hanya memperjuangkan tripanji AJI yakni, kemerdekaan pers, profesionalisme jurnalis, dan kesejahteraan jurnalis, mereka juga dihadapkan pada hoaks, disinformasi, dan toxic positivity yang digaungkan masyarakat selama Pandemi.

“Media yang mengabarkan fakta justru dianggap menyebarkan kabar yang menakut-nakuti,” kata dia.

Ketua AJI Indonesia, Sasmito Madrim yang berkesempatan membuka Konferta tersebut mengatakan jika dahulu mengidentifikasi kekerasan kepada jurnalis berupa fisik, yakni pemukulan, tendangan, penyerangan ke kantor, dan sejenisnya, kemudian mengalami perubahan, berupa serangan doxxing, peretasan, dan sejenisnya. Di masa Pandemi, tantangan baru muncul yakni munculnya poster digital yang menyalahkan media.

“Bermunculan poster digital, membaca berita akan menurunkan imun. Hal itu sangat berbahaya dan tidak kentara, serta justru menjadi serangan serius kepada media/jurnalis. Poster itu membahayakan keselamatan jurnalis. Masyarakat juga tidak mendapat informasi baik, sehingga melecehkan profesi jurnalis. Padahal, tugas jurnalis adalah edukasi dan mengontrol kebijakan pemerintah, namun dianggap menurunkan imunitas (kekebalan tubuh),” ucapnya.

Dalam Konferta tersebut, AJI Surakarta merekomendasikan lima poin, di antaranya menyerukan para pimpinan/pengelola media massa untuk mengutamakan keselamatan pekerja media selama pandemi Covid-19 dan transparan ketika terjadi kasus di tempat kerja. Kemudian, mendesak perusahaan media untuk menyediakan alat pelindung diri (APD) bagi para pekerjanya secara kontinyu.

AJI Surakarta juga menyerukan para pimpinan/pengelola media massa dan jurnalis agar berpedoman pada 9 elemen jurnalisme khususnya berpihak pada kepentingan publik dalam pemberitaan, khususnya di tengah krisis kesehatan dan peristiwa politik menuju 2024. AJI Surakarta juga merekomendasikan pemerintah dan pihak yang berkepentingan dengan media untuk menegakkan protokol kesehatan di tengah Pandemi Covid-19. Antara lain, tidak mengundang konferensi pers yang memungkinkan terjadinya kerumunan dan mendorong wawancara secara daring/virtual

.Poin berikutnya adalah meminta perusahaan media diminta tidak melakukan PHK massal meski terdampak Pandemi. Jika tidak memungkinkan, perusahaan diharapkan memberikan hak-haknya sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Terakhir, menyerukan kepada perusahaan media untuk lebih selektif merekrut jurnalis guna menjamin kualitas dan mutu produk jurnalistik yang dihasilkan. Perusahaan media juga harus rutin menggelar kegiatan peningkatan kapasitas jurnalis. (Lia)