sieradmu.com Klaten – Musium Rekor Indonesia (MURI) mencatat penggunaan eco enzyme terbanyak yang dilakukan serempak dengan menggunakan 50.000 alat semprot atau sprayer. Doker Rumah Sakit Cakra Husada menyebut eko enzyme.

Piagam dari MURI diserahkan Sri Widayati, Representasi MURI, kepada Bupati Klaten, Sri mulyani didampingi Forkopimda di Alun-alun setempat, Jum’at (7/1/2022).

“Kegiatan ini resmi kami catat di MURI sebagai rekor ke 1019, kami berikan piagam penghargaannya kepada Bupati Klaten dan relawan se kota bersinar”,katanya.

Bupati Klaten, Sri Mulyani menyebut kegiatan penyemprotan eco enzyme ke udara ini dilakukan secara massal sampai ditingkat RT, diikuti seluruh relawan, Forkopimda, OPD, PMI instansi pemerintah dan swasta.

“Bahan eko enzyme ini murah dan ramah lingkungan, kaita menggunakan 50 ribu sprayer dan tercatat di rekor muri”,ucapnya.

Kegiatan ini dicatatkan di rekor MURI sebagai bentuk prestasi, karena menggerakkan relawan yang segini banyak tidak mudah, kegiatan ini menjadi sarana eduaksi kepada masyarakat tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan meningkatkan prilaku hidup sehat sebagai bentuk kewaspadaan terhadap penyebaran virus corona dan lainnya.

“Atas dasar itu dari relawan dan PMI memiliki gagasan untuk mencatatkan kegiatan penyemprotan eko enzyme ini di MURI”ujar Bupati.

Direktur Utama RSCH Klaten, dr. Netty Herawati  mengparesiasi kegiatan penyemprotan massal ini hingga mendapatkan piagam dari MURI. Menurutnya, eco enzyme ini memiliki banyak manfaat.

“Dirumah sakit pemanfaatan eco enzyme┬á sudah┬á dilaksanakan sejak dahulu bahkan sebelum mewabah covid-19, hal ini tidak lain untuk menciptakan lingkungan bersih┬á sehingga dapat menambah kenyamanan pasien, keluarga dan pihak yang memanfaatkan layanan kesehatan di RSCH”, katanya.

Eco Enzyme ini menurut  dr. Netty, mengapa digalakkan karena merupakan proses pengolahan limbah organik menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna serta memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik dan itu bisa didapat dari lingkungan kita sendiri.

“Limbah organik ini diolah sedemikian rupa dengan cara yang ekonomis dengan hanya menambahkan gula, setelah dibiarkan selama 3 bulan nanti akan terbentuk senyawa yang mengandung alkohol dan asam asetat pembunuh bakteri dan kuman, juga berfungsi sebagai kompos, jadi sangat banyak gunanya mulai dari disinfektan sebagai penyubur tanaman”, (Nur)