sieradMU.com Ngawen – Kenaikan harga kacang kedelai impor yang melambung di pasaran membuat sejumlah pengusaha tahu di Klaten kembang kempis. Bahkan mereka sempat mogok produksi selama 3 hari sebagai bentuk protes terhadap kenaikan kondisi bahan baku yang tak terkendali.

Nuryatin Umi F (38), pengusaha tahu asal Desa Candirejo membenarkan kenaikan harga kedelai yang naik drastis tersebut.  Harga normal kedelai impor biasanya hanya Rp.6.00,- sampai  Rp.7000,-/kilogramnya. Beberapa pekan terakhir terus terjadi kenaikan.

“Kenaikan drastis justru pada pekan ini, kenaikan sampai tembus Rp.2.500 perkilogramnya- perkilogramnya, pengusaha tahu tempe secara nasional jadi sedih galau dengan kenaikan yang hingga 45 %”,katanya , Sabtu (2/1/2021).

Lebih lanjut dijelaskan selama ini sebagian besar pengusaha tahun di Klaten banyak yang menggunakan kedelai jenis impor dari Amerika karena kualitas nya lebih baik dibanding kedelai lokal. Disaat harga kedelai melambung para pengusaha tahun tempe hanya bisa pasrah dan berharap pemerintah segera dapat mengambil kebijakan dengan kondisi seperti ini.

“Para pengusaha tahun tempe secara nasional sempat  melakukan aksi mogok produksi hingga 3 hari, sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga kedelai, namun kami dihimbau Pemerintah mulai besok (3/1/2021) sudah beroperasi lagi”,jelasnya.

Pengusaha tempe asal Kampung Ngingas Lor, Kelurahan Bareng Lor Klaten Utara, Agus Riyanto, juga membenarkan kenaikan harga kedelai impor tersebut, tiga hari lalu dia mendapatkan harga kedelai sudah sampai Rp. 9.200,-/kilogramnya.

“Kami para pengusaha tahu tempe lainnya di Klaten berharap Pemerintah segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan kenaikan harga kedelai yang cukup drastis, menjadi normal kembali. (Nur)