Buka Sidang Pra Muktamar NA, Busyro Muqoddas Ingatkan, Jaga Marwah Persyarikatan, Jangan Ada Politik Uang !
- account_circle Redaksi SieradMU
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
sieradmu.com Yogyakarta – Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) menggelar Sidang Pra Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah secara daring pada Sabtu (11/7/2026). Kegiatan ini dipusatkan di Kantor Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Yogyakarta, dan diikuti secara virtual dari Jakarta serta kantor sekretariat Nasyiatul Aisyiyah di seluruh Indonesia.
Sidang Pra Muktamar menjadi agenda konstitusional yang menandai dimulainya rangkaian Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah. Forum ini dibuka oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, M. Busyro Muqoddas, serta dihadiri jajaran Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah dan perwakilan pimpinan wilayah, daerah, cabang dari seluruh Indonesia.
Dalam sambutannya, Busyro Muqoddas mengingatkan pentingnya menjaga marwah organisasi melalui proses pemilihan kepemimpinan yang berintegritas, independen, dan bebas dari praktik politik uang. Keberhasilan Muhammadiyah bertahan dan terus memberikan kontribusi bagi bangsa selama lebih dari satu abad tidak terlepas dari tata kelola organisasi yang cerdas, jujur, profesional, dan bermartabat.
“Muhammadiyah lebih dari satu abad telah memberikan kontribusi yang sangat besar lintas agama, lintas suku, lintas profesi bagi bangsa ini. Itu karena adanya pengelolaan organisasi yang cerdas, jujur, bermartabat, dan profesional. Para pemimpinnya menjaga amanah,” ujarnya di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta.
Ia menegaskan bahwa karakter independen harus menjadi salah satu kualifikasi utama dalam memilih pemimpin organisasi. Independensi, kata Busyro, merupakan benteng terhadap berbagai bentuk intervensi yang dapat memengaruhi arah gerak persyarikatan.
“Independensi ini perlu dihadirkan sebagai lawan dari intervensi. Sebagai umat Nabi Muhammad yang memperjuangkan nilai-nilai Islam, kita harus menjaga independensi agar Muktamar benar-benar berlangsung mandiri dan hati-hati terhadap intervensi dari pihak mana pun. Kita harus menjaga marwah kita,” tegasnya.
Busyro yang membidangi Hukum, HAM dan Kebijakan Publik, juga menitipkan pesan kepada seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah agar proses pemilihan pimpinan dalam Muktamar ke-15 didasarkan pada kapasitas, integritas, dan kualifikasi calon, bukan karena faktor kedekatan personal maupun kepentingan tertentu. Ia turut mengingatkan agar seluruh peserta menjauhi praktik politik uang yang dapat mencederai nilai-nilai organisasi.
Sementara itu, Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Ariati Dina Purnamasari, menegaskan bahwa Sidang Pra Muktamar merupakan forum strategis yang menjadi bagian penting dari keseluruhan rangkaian Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah.
Menurut Ariati, penyelenggaraan sidang pra muktamar dilakukan sebagai langkah konstitusional untuk mengoptimalkan waktu pelaksanaan Muktamar dengan mempertimbangkan berbagai aspek teknis maupun substansial.
“Sidang Pra Muktamar ini adalah forum konstitusional yang krusial untuk menyiasati durasi waktu pelaksanaan Muktamar dengan berbagai pertimbangan. Tujuannya adalah melakukan evaluasi terhadap Laporan Pertanggungjawaban PP Nasyiatul Aisyiyah periode 2022–2026 sekaligus mendengarkan paparan dari tim materi Muktamar,” jelasnya.
Dalam forum tersebut, PP Nasyiatul Aisyiyah juga menyatakan kesiapan mempertanggungjawabkan amanah kepemimpinan selama satu periode kepada seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah di Indonesia.
“Pada Sidang Pra Muktamar ini kami siap mempertanggungjawabkan amanah yang kami emban di hadapan seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah di seluruh Indonesia dari kantor masing-masing. Kami juga siap menerima berbagai masukan demi penyempurnaan materi Muktamar,” ujar Ariati.
Ariati kembali mengingat analogi yang pernah ia sampaikan pada awal kepemimpinannya dalam Muktamar Bandung, bahwa Nasyiatul Aisyiyah adalah sebuah kapal besar yang berlayar mengarungi samudra.
“Saya pernah menganalogikan Nasyiatul Aisyiyah sebagai kapal besar yang berlayar dengan sekoci-sekocinya. Nasyiatul Aisyiyah diciptakan untuk menaklukkan samudra. Dalam perjalanan akan menemui berbagai kondisi, kadang tenang, kadang menghadapi gelombang yang mengkhawatirkan. Namun kapal ini akan terus berlayar bersama seluruh kadernya,” ungkapnya.
Ia berharap berbagai program yang telah dijalankan PP Nasyiatul Aisyiyah dapat semakin dirasakan manfaatnya hingga ke akar rumput, sekaligus membuka ruang evaluasi dari seluruh pimpinan daerah dan wilayah. (nur)
- Penulis: Redaksi SieradMU
