Puncak Perayaan Ya Qowiyyu Jatinom, Ribuan Massa Berebut Kue Apem Berkah Ki Ageng Gribig
- account_circle Redaksi SieradMU
- calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sieradmu.com Klaten – Puncak tradisi Yaqowiyu di komplek Makam Ki Ageng Gribig, Jatinom, berlangsung , Jumat (31/7/2026) siang. Sebanyak 65.000 keping kue apem diperebutkan warga untuk mendapatkan berkah dari perayaan haul Ki Ageng Gribig ini.
Sebelumnya dilakukan kirab dua gunungan apem dari Kantor Kecamatan Jatinom melewati jalan raya Jatinom menuju Masjid Gede untuk disemayamkan. Warga mulai berdatangan di Oro-oro Sendang Klampeyan sejak pagi, usai Sholat Jum’at gunungan apem diarak menuju lokasi sebaran apem dan setelah dilakukan doa penyebaran apem dilakukan dari panggung kehormatan dan dua menara di tengah Oro-oro Sendang Klampeyan.
Ketua Dewan Pembina Pengelola Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig P3KAG, Muhammad Daryanto mengatakan, tradisi ini merupakan warisan budaya Ki Ageng Gribig, tokoh penyebar ajaran Islam era Mataram Islam.
“Tradisi ini sudah berlangsung lebih dari empat abad dan digelar setiap Bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Sebaran apem selalu dilakukan usai salat Jumat,” ungkapnya.
Menurutnya tradisi ini bukan sekadar perayaan tahunan, namun juga warisan dakwah yang diajarkan oleh Ki Ageng Gribig yang terus dilestarikan keberadaannya.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo nampak hadir dilokasi perayaan Yaqowiyu mendampingi Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto, jajaran Forkopimda Klaten, dan perwakilan Keraton Kasunanan Surakarta. Perayaan Yaqowiyu tahun ini terasa istimewa karena digelar tak lama setelah Hari Jadi Klaten ke-222 pada 28 Juli 2026.
“Semoga kita bisa terus meneladani nilai dan ajaran Ki Ageng Gribig. Di momen ini kita tidak hanya merayakan sebaran apem, tapi juga bagaimana meneladani sosok ulama yang mewariskan tradisi ini,” ungkapnya.
Menurut Hamenang, Tradisi Yaqowiyu menjadi simbol kebersamaan, syukur, dan dakwah melalui budaya. Ribuan apem yang jadi rebutan warga diyakini membawa berkah dan menjadi pengingat untuk terus menjaga nilai gotong royong serta toleransi. (Nur)
- Penulis: Redaksi SieradMU
