Dimulai Dari Klaten , Ormas Islam Ini Kembali Bikin Gebrakan, Kembangkan Rojolele Reborn Perkuat Kedaulatan Pangan Nasional
- account_circle Redaksi SieradMU
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sieradmu.com Klaten – Organisasi islam terbesar di Indonesia ini kembali bikin gebrakan guna mendukung kedaulatan pangan nasional yang menjdi prioritas kepemimpinan Presiden Prabowo Subiyanto. melalui program Kick Off Rojolele Reborn, Meningkatkan Kapasitas Produksi dan Kelembagaan Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) melalui penanaman padi varietas Rojolele-104 di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Kamis (20/8/2026).
Program sinergitas yang dilaksanakan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah berkolaborasi dengan PT Danone Indonesia, dan JATAM MPM PDM Klaten ini pada tahap awal pengembangan Rojolele-104 akan dilakukan di tiga lokasi antara lain di Gempol seluas 8.000 meter persegi, Ceper 5.500 meter persegi, dan Prambanan 3.000 meter persegi. Secara keseluruhan, luas uji coba ditargetkan mencapai sekitar 5 hektare.
Dari luasan lahan tersebut diperkirakan hasilnyadapat mencapai 6-7 ton gabah per hektare. Artinya, dari lima hektare diproyeksikan menghasilkan sekitar 30-35 ton gabah atau sekitar 20-25 ton beras setelah melalui proses penggilingan.
Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin, mengatakan kegiatan ini bukan hanya agenda tanam simbolis saja, karena dari sinilah langkah awal bagaimana Muhamamdiyah membangun ekosistem pertanian dengan memastikan hasil panen memiliki pasar. Beras Rojolele pernah menjadi salah satu varietas unggulan Kabupaten Klaten sebagai salah satu ikon beras daerah dan memiliki karakter rasa pulen yang digemari masyarakat.
” Kami ingin membangun inovasi Rojolele ini untuk terus dikembangkan sebagai sebuah varietas padi yang digemari oleh masyarakat Muhammadiyah telah lama lanjutnya, telah lama memiliki perhatian terhadap sektor pertanian. Penguatan petani dilakukan mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, kelembagaan, produktivitas, hingga penyiapan pasar. Karena itu, pihaknya juga mulai menyiapkan offtaker atau pihak yang akan menyerap hasil panen termasuk rojolele ini”,katanya.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Tafsir, usai penanaman simbolis menyatakan sangat mengapresiasi langkah MPM PP Muhammadiyah yang kembali mempercayakan wilayah Jawa Tengah untuk program pengembangan padi Rojolele di Klaten.
“Klaten ini dikenal sebagai salah satu daerah lumbung padi Jawa Tengah, sementara Rojolele telah memiliki branding kuat sebagai beras khas daerah tersebut. Rojolele ini masih identik dengan konsumsi kelompok masyarakat tertentu karena harganya relatif lebih tinggi. Dia berharap peningkatan produksi membuat beras tersebut semakin mudah dijangkau masyarakat luas, termasuk masyarakat di pedesaan”,ucapnya.
Tafsir berharap pengembangan Rojolele tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan domestik. Menurutnya, Indonesia sebagai negara agraris semestinya tidak terus bergantung pada impor pangan, tetapi mulai meningkatkan produksi hingga mampu menembus pasar luar negeri.
“Melaluli program ini sudah saatnya negara kita mengubah kerangka berfikir tidak hanya sekedar impor, tapi juga ekspor. Tidak hanyauntuk memenuhi kebutuhan sendiri, tapi sudah saatnya kita ekspor ke negara lain,” pungkasnya. (nur)
- Penulis: Redaksi SieradMU
