Buka Tanwir III Nasyiatul Aisyiyah di Solo, Agung Danarto Ingatkan Tigal Hal Ini Untuk Para Kader NA
- account_circle Redaksi SieradMU
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 43
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
sieradmu.com Solo – Membuka acara Tanwir III Nasyiatul Aisyiyah, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto menekankan tiga fokus utama yang penting untuk dijadikan perhatian khusus bagi seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah ke depan.
Poin utama yang dijelaskannya adalah mengenai penguatan organisasi dan pengaderan. Dalam hal ini, Agung mengingatkan bahwa sebuah forum permusyawaratan di lingkungan Muhammadiyah dan organisasi otonomnya bukan sekadar ajang kontestasi memilih siapa pemimpin yang baru. Lebih dari itu, forum seperti Tanwir dan Muktamar harus menjadi momentum untuk memperkokoh komitmen dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar serta memperkuat ukhuwah Islamiyah.
“Hindari permusyawaratan di Muhammadiyah menjadi permusyawaratan ala partai politik. Kalau partai politik itu prinsipnya zero sum game. Siapa yang menang dia akan dapat semuanya, yang kalah enggak dapat bagian apa-apa,” tegas Agung dalam acara yang digelar Kamis, (6/8) bertempat di Dwangsa Solo Hotel.
“Sehingga karenanya, mereka terkadang juga menggunakan Al Ghayatul Bariul Wasilah, cita-cita yang menghalalkan segala cara. Nah, di Muhammadiyah enggak boleh yang seperti itu. Cita-cita baik harus dilakukan dengan cara-cara yang baik,” tambahnya menegaskan.

Pesan selanjutnya, Ia turut mengingatkan pentingnya memperkokoh tiga pilar pengaderan Muhammadiyah. 3 hal yang ia sebut, yaitu kader persyarikatan, kader umat, dan kader bangsa. Bagi Agung, ketiga aspek pengaderan tersebut penting untuk selalu dipersiapkan agar kader dan diaspora Muhammadiyah di berbagai ranah kebangsaan tetap berpijak kepada ideologi persyarikatan.
“Maka kehadiran para kader dan diaspora Muhammadiyah ini dimaknai sebagai upaya Muhammadiyah untuk menyiapkan sekaligus mengirimkan putra-putri terbaik dalam ranah keumatan dan kebangsaan,” jelasnya.
Ketiga, terkait visi kebangsaan. Agung danarto memaparkan bahwa komitmen Muhammadiyah terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah tersusun rapi dalam konsep negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wasyahadah. Oleh karena itu, Agung dalam kesempatan ini berpesan bahwa Muhammadiyah dan seluruh ortomnya memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga NKRI dan mengisinya dengan kerja-kerja nyata.
Di sini ia juga menyebut bahwa tugas besar para kader saat ini adalah membuktikan bahwa Indonesia bisa diwujudkan menjadi negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur , sebuah definisi yang mengartikan cita-cita masyarakat ideal yang memadukan kesuburan alam, akhlak mulia, serta kedekatan spiritual dengan yang maha kuasa, Allah Swt.
“Untuk kader itu tidak cukup hanya mengeluh, tapi juga harus diiringi action yang jelas. Kita tunjukkan, kita ciptakan kader-kader yang terbaik bagi kita untuk mengawal bagaimana agar negara kita bisa menjadi baldatun thoyibatun wa rabbun ghafur,” pungkasnya. (nur/*)
- Penulis: Redaksi SieradMU
