Sosialisasi 4 Pilar di Sleman, GM Totok Hedi Tekankan Pentingnya Payung Pemersatu Ditengah Keberagaman
- account_circle Redaksi SieradMU
- calendar_month Senin, 22 Jun 2026
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sieradmu.com Sleman – Ratusan peserta mengikuti kegiatan Sosialisasi empat pilar kebangsaan, Pancasila, UUD-1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika di Sanggar Sumber Budoyo Wonsopati, Keloro, Sumberharjo RT 03 RW 22, Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Selasa (23/6/2026).
Sosialisasi ini menghadirkan nara sumber utama Anggota MPR-RI, A-212 Fraksi PDI Perjuangan, Daerah Pemilihan Daerah Istimewa Yogyakarta, GM.Totok Hedi Santosa ini dilaksanakan untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang nilai-nilai luhur bangsa agar masyarakat mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, Mencegah perpecahan dan meredam potensi konflik di tengah keberagaman suku, agama, dan ras yang rawan terjadi di tahun politik maupun dinamika sosial utamanya didaerah pemilihan.
“Kegiatan ini sekaligus sebagai bentuk kontribusi nyata MPR-RI dalam menciptakan generasi muda yang berkarakter, sehingga semakin kuat dalam menghadapi tantangan jaman, serta teta terjaganya rasa nasionalisme dan patriotisme bangsa”,kata , GM.Totok Hedi Santosa.

Dijelaskan, generasi muda pasca reformasi perlu terus menerus diberikan pemahaman tentang Empat Pilar Kebangsaan, sehingga untuk menghadapi masa depan bangsa ini akan lebih tegak dan kokoh dalam berbangsa dan bernegara menuju cita-cita proklamasi.
“Kebebasan berpendapat memang menandai lahirnya era reformasi, tapi seringkali kebebasan tersebut dimaknai bebas tanpa batas. Kesalahan pemahaman tersebut menyebabkan kendurnya nilai-nilai agama dan nilai-nilai keakraban sosial”,jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut Anggota MPR-RI, A-212 Fraksi PDI Perjuangan ditanya mengenai bagaimana korelasi atau hubungan Bhinneka Tunggal Ika dengan adat dinegara yang penuh kemajemukan. Menurutnya Hubungan antara Bhinneka Tunggal Ika dengan adat adalah semboyan tersebut menjadi payung pemersatu dan landasan toleransi bagi kemajemukan budaya, suku, dan adat istiadat di Nusantara, sehingga keberagaman tradisi yang ada di setiap daerah tetap berada dalam satu kesatuan bangsa.
“Hubungan keduanya jelas saling melengkapi, keberadaan semboyan ini sebagai alat pemersatu dari keragaman termasuk adat istiadat, Bhineka Tunggal Ika jelas sebagai pondasi untuk menjaga toleransi ditengah keberagaman”ucapya. (Nur)
- Penulis: Redaksi SieradMU
