Jatam Tulung Lakukan Panen Raya Jagung Diatas Lahan Wakaf, Hama Tikus Masih Menjadi Musuh Petani
- account_circle Redaksi SieradMU
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 72
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sieradmu .com Klaten – Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Cabang Tulung, Kabupaten Klaten, mengadakan panen raya jagung di lahan wakaf produktif seluas sekitar 1 patok (±2.000 meter persegi), Senin (29/6/2026).
Panen raya ini dilakukan ditengah wabah tikus yang tengah serangan hama tikus yang menjadi musuh para petani, Namun demikian, panen tersebut masih menghasilkan sekitar 2.200–2.300 kilogram jagung pipil kering dengan harga jual mencapai Rp6.200 per kilogram.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulung Muslim Subagyo, menjelaskan panen jagung raya ini diatas lahan wakaf dari Bapak Sriyono. Jatam Cabang Tulung mengelola lahan tersebut sebagai bagian dari upaya mengembangkan pertanian produktif yang memberikan manfaat bagi umat.
Ia mengakui panen raya ini ditengah belum meredanya hama tikus yang saat ini tengah melanda lahan pertanian. Bahkan, pada malam hari para petani jatam harus sering sering berjaga dan rela tidur di sawah untuk meminimalisir serbuan tikus.
“Alhamdulilah, meski di wilayah kami sedang dilanda wabah tikus, kita masih diberikan panen raya. Hasil panen raya ini harus kita raih dengan berjaga setiap malam, bermalam bersama tikus,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kornas Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM), Wahyudi Nasution, turut hadir langsung membersamai panen raya. Ia menyampaikan bahwa potensi tersebut perlu dikelola secara lebih terarah. Ia mendorong agar Jatam Cabang Tulung menetapkan jagung sebagai komoditas unggulan dan mulai membangun kekuatan bersama para petani.
“Jatam harus mampu menghimpun para petani dalam satu barisan, meningkatkan kapasitas anggotanya melalui pendampingan, pelatihan, dan inovasi budidaya, sekaligus membangun kemitraan pemasaran yang berkelanjutan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Wahyudi mengungkapkan bahwa jatam saat ini mulai menjajaki kerja sama dengan industri pengolahan jagung untuk membangun rantai pasok yang lebih kuat. Dengan adanya kepastian pasar, petani tidak hanya memperoleh hasil panen yang baik, tetapi juga memiliki jaminan pemasaran yang mampu meningkatkan kesejahteraan mereka.
Wahyudi menyatakan panen raya ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun ekosistem pertanian Muhammadiyah yang terintegrasi, mulai dari pengelolaan lahan, peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan petani, hingga pemasaran hasil panen.
“Kedepan, model wakaf produktif dan pengembangan sentra jagung di Tulung diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi cabang-cabang jatam lainnya dalam memperkuat ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi umat,” urai Wahyudi.
Kondisi pertanian di Kecamatan Tulung sangat mendukung pengembangan jagung. Mayoritas petani menerapkan pola tanam Padi–Jagung–Jagung, yakni pada Musim Tanam (MT) I menanam padi, kemudian MT II dan MT III menanam jagung. Pola ini menunjukkan bahwa jagung telah menjadi komoditas penting bagi petani setempat. (Fath)
- Penulis: Redaksi SieradMU
