Upacara Peringatan HUT Ke-81 RI di Joglo Perdamaian Alpansa, Budayawan Ki Ardhi Poerbo Antono: NKRI Itu Harga Mati
- account_circle Redaksi SieradMU
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 107
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sieradmu.com Klaten – Ribuan peserta mengikuti Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di halaman Joglo Perdamaian Umat Manusia Sedunia, Komplek Pondok Pesantren Ak-Muttaqien Pancasila Sakti , Dukuh Sumberjo, Desa Troso, Kecamatan Karanganom Klaten Senin (17/8/2026).
Bertindak sebagai Inspektur upacara, Ki Ardhi Poerbo Antono seorang dalang, seniman dan budayawan terkemuka asal Kebalen, Kota Malang, Jawa Timur. Ia juga aktif sebagai pengurus di Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU. Sementara pasukan pengibar bendera merah putih adalah para santri Madrasah Aliyah Al-Muttaqien Pancasila Sakti.
“Upacara tersebut menjadi momentum penting untuk memperingati perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti yang telah ditauladankan Almarhum KH.Imam Lipuro (Mbah Liem)”,kata Kepala Madrasah Aliyah (MA) Alpansa Yayuk Madayani.

Menuurtnya upacara ini diikuti sekitar 1100 peserta yang terdiri dari santri MA, MTs Alpansa , RA, Santri Ponpes, beberapa perwakilan unsur dari Ormas Islam Nahdlatul Ulama serta para penyandang disabilitas di Kabupaten Klaten.
“Hari ini Yayasan Ponpes Al-Muttaqien Pancasila Sakti juga akan melaksanakan bakti sosial memberikan santunan berupa 200 paket sembako untuk para penyandang disabilitas yang hadir dalam kegiatan ini sebagai wujud kepedulian, sebuah apresiasi, penghargaan kepada para penyandang disabilitas yang juga merupakan warga negara Indonesia”,ucapnya.

Ki Ardhi Poerbo Antono dalam amantnya menegaskan bahwa kemerdekaan milik segenap Bangsa Indonesia, Kemerdekaan bukan milik satu orang atau satu golongan saja, melainkan hasil perjuangan bersama untuk mewujudkan keadilan sosial, persamaan hak, dan kesejahteraan bagi setiap warga negara.
“Dalam berbangsa dan bernegara perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar, namun hendaknya disikapi secara bijak, jangan sampai menimbulkan permusuhan, perpecahan yang dapat meruntuhkan kokohnya NKRI seperti yang ditauladankan Mbaj Liem”,tegasnya.
Menurutnya, Pemerintah juga perlu mewaspadai segala upaya untuk memecahbelah persatuan dan Pemerintah juga harus segera bertindak dalam mensikapi fenomena pengibaran bendera bulan bintang di Aceh agar tidak terjadi di daerah lain.
“Bagi kita dan para sentri tetap setia ikut para Kyai, para pendiri bangsa , sejarehnya jelas, dan warna merah putih sendiri bagi kami memiliki dasar, sebagai lambing kehormatan dan kejayaan, dengan demikian kami akan berada di garda terdepan jika ada yang ingin merong rong NKRI karena merupakan harga mati”,ucapnya.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti (Alpansa) Klaten), K.H. Ahmad Chairi Saifuddin Zuhri yang juga akrab disapa Gus Zuhri) mengungkapkan kegiatan ini sebagai upaya untuk memupuk rasa cinta tanah air, sebagai kader bangsa yang cerdas, menjaga menjaga bangsa ini aman, damai Makmur sepanjang masa.
“Saya juga berpesan kepada Bapak Presiden untuk selalu meingktakan spiritualitasnya dalam mengembang amanah sebagai pemimpin bangsa, syukur bisa sampai dua periode”,pungkas Gus Zuhri. (Nur)
- Penulis: Redaksi SieradMU
