Renungan Kebangsaan, Kadarwati Ajak Kader PDI P Mengenang Loyalitas Almarhum Citro Prawiro, Begini Kiprahnya !
- account_circle Redaksi SieradMU
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sieradmu.com Klaten – Suasana berbeda dihadirkan Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi PDI Perjuangan (PDI P) Kadarwati mengadakan acara Renungan Kebangsaan. Dalam kesempatan tersebut sosok Almarhum Citro Prawiro ayah kandung Kadarwati, untuk dikenang sebagai pemantik para kader partai berlambang banteng moncong putih.
Renungan Kebangsaan yang berlangsung di kediamannya di Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten pada kemarin sore (17/5/2026) ini dihadiri Pengurus Anak Cabang (PAC) serta Ketua, Sekretaris dan Bendahara (KSB) Pengurus Ranting PDIP se Kecamatan Trucuk.
Renungan Kebangsaan yang dikomandani langsung Kadarwati diawali dengan mengutip pesan Bung Karno untuk tidak meninggalkan sejarah, termasuk kebesaran PDI Perjuangan yang dirintis dengan penuh dinamika, perjuangan berat hingga loyalitas para kader.
“Jangan sekali sekali meninggalkan sejarah. Karena semua yang terjadi di dalam kehidupan manusia itu membutuhkan proses dan perjuangan, termasuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu juga lahir dari proses yang panjang, yang membutuhkan perjuangan jiwa dan raga. Meskipun sudah menyatakan merdeka serta memiliki wilayah, rakyat dan pemerintahan, namun Republik Indonesia juga tetap butuh pengakuan dari negara negara lain di dunia.
Anggota Komisi B DPRD Jatenf ini juga menegaskan bahwa PDI Perjuangan (PDIP). PDIP juga dimulai dengan perjuangan yang berdarah-darah. Sep[erti pada masa rezim Orde Baru, yang waktu itu hanya ada tiga partai politik yaitu PPP, Golkar dan PDI.
“Kita masih ingat gejolak yang terjadi di PDI pada tahun 1996, dimana gelombang besar muncul dari akar rumput yang menginginkan adanya perubahan kepemimpinan di PDI dengan usulan putri Bung Karno, Megawati Sukarno Putri tampil memimpin PDI. Tantangannya waktu itu cukup berayt karena tidak dikehendaki oleh penguasa saat itu. Hingga penguasa mendukung penuh kepemimpinan Suryadi dibanding Megawati di PDI, dan akhirnya terjadilah meletuskan peristiwa kelam 27 Juli 1996 yang sering disebut Kudatuli”tegasnya.
Di banyak daerah kemudian muncul gerakan-gerakan masyarakat untuk memberikan dukungan kepada Megawati guna memimpin PDI.
Sejarah mencatat, Di Solo Raya, muncul Barisan Pendukung Megawati (BPM), Srikandi, dan gerakan masyarakat pendukung Megawati lainnya. Sementara di Kabupaten Klaten, gerakan masyarakat mendukung Megawati itu lahir di Dukuh Gesing, Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk yang dipelopori oleh Citro Pawiro yang saat itu merupakan Koordinator Kecamatan (Korcam) PDI di Kecamatan Trucuk. Dari Desa Jatipuro ini kemudian gerakan pendukung Megawati menyebar ke seluruh wilayah Kabupaten Klaten.

“Citro Pawiro adalah sosok yang memiliki jiwa nasionalisme tulen dan seorang Pancasilais sejati. Kepada setiap orang yang bertamu di rumahnya, Citro Pawiro selalu menyajikan Pancasila dan ajaran Bung Karno.Dalam hal kemasyarakatan loyalitasnya tidak diragukan lagi”, ucap Kadarwati yang merupakan putri Almarhum.
Dibidang kemasyarakatan lanjut Kadarwati , Citro Pawiro dikenal sebagai sosok yang peduli dengan kemajuan warga disekitarnya, sangat dermawan membantu kebutuhan warga di sekitar tempat tinggalnya yang membutuhkan. Bahkan, ia rela membeli tanah demi membuatkan jalan tembus bagi warga masyarakat di desanya.
Renungan Kebangsaan ditutup dengan berziarah dan berdoa di makam Citro Pawiro di Dukuh Gesing, Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk. (nuR)
- Penulis: Redaksi SieradMU
