Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » ARTIKEL » Mencerahkan, Haedar Nashir Sampaikan Refleksi Peringatan Hari Lahir Pancasila

Mencerahkan, Haedar Nashir Sampaikan Refleksi Peringatan Hari Lahir Pancasila

  • account_circle Redaksi SieradMU
  • calendar_month Minggu, 1 Jun 2025
  • visibility 427
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Yogyakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa peringatan kelahiran Pancasila setiap 1 Juni  bukanlah sekadar  seremonial.

“Jadikan momentum kelahiran Pancasila sebagai komitmen nilai dan moral kebangsaan untuk merefleksikan kembali jati diri Indonesia sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila,”tegas Haedar pada Ahad (1/6).

Di tengah dinamika zaman, lanjut Haedar, Pancasila harus senantiasa menjadi kompas ideologis dan etika publik dalam kehidupan bernegara. Sebab pada dimensi ini kehidupan bernegara masih memiliki titik lemah.

“Kita harus jujur mengakui korupsi, ketimpangan sosial, penyalahgunaan kekuasaan, dan rendahnya keteladanan moral para elite adalah bentuk-bentuk pengingkaran terhadap Pancasila yang mesti kita koreksi bersama,”jelas Haedar.

Demikian juga penyalahgunaan otoritas dalam pengelolaan sumberdaya alam, kuatnya oligarki politik dan ekonomi, penyelewengan dan politisasi hukum, dan perusakan etika bernegara masih kuat dalam kehidupan bernegara di negeri ini. Praktik kehidupan politik, ekonomi, dan budaya pasca reformasi sangat liberal yang berdampak pada kehidupan yang serba boleh atau pragmatis dan oportunistik seperti politik uang, politik transaksional, premanisme yang dilindungi negara, dan sikap warganegara yang serba permisif.

“Karenanya tantangan terbesar saat ini bukanlah mempertentangkan Pancasila dengan ideologi lain serta terus memproduksi isu radikalisme tanpa fokus dan kejelasan pemikiran. Tetapi bagaimana kita mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila secara otentik dalam realitas sosial, politik, ekonomi, hukum, serta seluruh praktik berbangsa dan bernegara,”imbuh Haedar.

Jika Soekarno menyebutkan Pancasila sebagai philosopische grondslag (dasar filosofis) atau Weltanschauung (pandangan dunia) maka Dasar Negara tersebut harus menjadi fondasi bangunan kehidupan berbangsa dan bernegara secara struktural dan aktual dalam perikehidupan berbangsa bernegara. Artinya, Pancasila harus betul-betul dijadikan nilai penting yang menjiwai dan sekaligus membentuk pemikiran mendasar dalam kehidupan berbangsa dan penyelenggaraan bernegara.

Selain itu membuahkan perilaku nyata para pejabat, aparatur, seluruh elite publik dalam menjalankan pemerintahan negara dari pusat sampai daerah. Termasuk bagi para mantan pejabat negara dan yang sudah purna tugas agar menunjukkan etika luhur dalam berbangsa bernegara sebagai para negarawan berjiwa Pancasila, supaya  tidak tamak kuasa dan digdaya.

Haedar juga menjelaskan bahwa Pancasila lahir dari konsensus luhur para pendiri bangsa dan tokoh-tokoh nasional yang datang dari berbagai latar belakang agama, suku, dan golongan.

“Pancasila hadir dari hasil perenungan dan pemikiran mendalam dalam menghadirkan dasar negara yang inklusif, adil, dan mempersatukan. Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan nilai hidup bersama yang harus dibumikan secara nyata. Karenanya sudah tinggi waktunya untuk menjadikan Pancasila sebagai praktik hidup nyata berbangsa bernegara,”jelas Haedar.

Bagi Muhammadiyah, lanjut Haedar, Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sangat sejalan dengan ajaran Islam: Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Sejak awal kemerdekaan hingga kini, Muhammadiyah berkomitmen untuk menerima, menjaga, dan mengamalkan Pancasila secara konsisten dalam kehidupan berbangsa, melalui dakwah pencerahan, pendidikan, kesehatan, dan aksi sosial kemanusiaan.

“Muhammadiyah mengunci sikap dasar itu dalam dokumen resmi Negara Pancasila Darul Ahdi Wasyahadah,”tegas Haedar.

Haedar juga mengatakan bahwa di tengah situasi global yang kompleks dan penuh tantangan, Pancasila harus hadir sebagai kekuatan pemersatu dan pengarah jalan kemajuan Indonesia dan ranah dunia. Membela Palestina dan mengutuk segala bentuk agresi, genosida, dan penjajahan legal maupun ilegal oleh negara manapun termasuk Zionis Israel adalah manifestasi menjalankan Konstitusi Negara dan Pancasila. Bukan urusan primordialisme agama apalagi wujud politik transaksional antarnegara.

“Sila keempat dalam Pancasila sama pentingnya dalam berbangsa dan bernegara, termasuk dalam berpolitik dan berdemokrasi. Bagaimana nilai Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Menurut sejumlah ahli dan praktik di kehidupan nyata, politik dan demokrasi Indonesia sudah sangat liberal,”papar Haedar.

Para aktor baik institusi maupun elitnya terbiasa pragmatis dan oportunistik, demi meraih dan mewujudkan kepentingannya apa saja dihalalkan, termasuk mengakali konstitusi dan peraturan. Hukum pun disalahgunakan dan disiasati demi kepentingan politik sesaat. Warga bangsa pun terbiasa pragmatis dan oportunistik. Oligarki politik berbaju koalisi pun samar-samar maupun terbuka menjadi hegemoni kekuasaan bernegara. Karenanya politik dan demokrasi Indonesia kehilangan jiwa hikmah-kebijaksanaan, permusyawaratan, dan perwakilan. Di sinilah pentingnya perenungan mendasar, bahwa sistem dan politik demokrasi Indonesia saat ini sejatinya menyalahi atau banyak tidak sejalan dengan Sila Keempat Pancasila.

“Selain itu, kesenjangan sosial dan kemiskinan juga masih menjadi realitas di negeri ini. Sementara oligarki politik dan oligarki ekonomi makin menyatupadu  kehidupan kebangsaan dan kenegaraan di Republik ini. Jelas hal itu tidaklah sejalan dengan Sila Kelima Pancasila, yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” ungkap Haedar.

Kita ingat pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, “Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu’.”.

Haedar juga menambahkan bahwa sumberdaya alam harus dimanfaatkan dan dikelola dengan sebaik-baiknya untuk hajat hidup orang banyak, demi keadilan dan kemakmuran bersama seluruh rakyat Indonesia.

“Karenanya Pancasila jangan terus dislogankan, diteriakkan, disimbolisasikan, dan apalagi dikeramatkan dengan gempita. Pancasila tidak untuk disakralkan dan diglorifikasi dengan paham puritan dan fanatik buta, yang melahirkan pandangan ultranasionalisme, tanpa perwujudan di dunia nyata dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara,”tegas Haedar. Sebaliknya Pancasila juga jangan dinegasikan dengan praktik-praktik kehidupan bernegara yang berubah menjadi serba pragmatis, oportunistik, dan serba liberal.

Demi menjadikan Pancasila terwujud nyata dalam berindonesia, yakni: Berketuhanan Yang Maha Esa; Berperikemanusiaan yang adil dan beradab; Berpersatuan Indonesia; Berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; serta Berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka seluruh pejabat di eksekutif, legislatif, yudikatif, partai politik, dan institusi pemerintahan maupun komponen bangsa lainnya wajib hukumnya ber-Pancasila dalam kehidupan nyata.

“Pancasila akan kehilangan makna jika hanya dijadikan slogan atau simbol tanpa pelaksanaan nyata. Oleh karena itu, Muhammadiyah mengajak seluruh komponen bangsa, khususnya generasi muda, untuk menjadikan Pancasila sebagai inspirasi etika dan aksi kolektif,” tambah Haedar.

Terakhir, Haedar mengajak untuk menjaga dan amalkan Pancasila, bukan hanya dalam pidato, tetapi dalam perilaku dan kebijakan yang menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

“Jangan sampai Pancasila digelorakan menjadi salam tanpa makna dan berhenti menjadi kebanggaan semu dalam kehidupan berbangsa bernegara,”tutup Haedar.

 

  • Penulis: Redaksi SieradMU

Rekomendasi Untuk Anda

  • Merasa Terusik dan Ada Intimidasi, Sejumlah Warga Mondokan Klepu Ceper Meminta Perlindungan Presiden

    Merasa Terusik dan Ada Intimidasi, Sejumlah Warga Mondokan Klepu Ceper Meminta Perlindungan Presiden

    • calendar_month Sabtu, 5 Apr 2025
    • account_circle Redaksi SieradMU
    • visibility 655
    • 0Komentar

    Sieradmu.com Klaten – Sejumlah warga yang menempati lahan di Dukuh Mondokan, Desa Klepu, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten belakangan merasa terusik dengan adanya tekanan terkait lahan yang ditempati hampir selama 32 tahun. Akhirnya mereka mengirimkan surat kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subiyanto untuk memohon perlindungan. Para warga  yang merasa tertekan antara lain Kuncoro, Sarjono, Deni Sulistyowati […]

  • Wow! Bersilaturahmi Dengan Pimpinan Muhammadiyah, Yoga-Sova Berikan Cinderamata Gambar Ahmad Dahlan dan Siti Walidah

    Wow! Bersilaturahmi Dengan Pimpinan Muhammadiyah, Yoga-Sova Berikan Cinderamata Gambar Ahmad Dahlan dan Siti Walidah

    • calendar_month Rabu, 25 Sep 2024
    • account_circle Redaksi SieradMU
    • visibility 808
    • 0Komentar

    Sieradmu.com Klaten – Hari pertama pelaksanaan kampanye pilkada Klaten, pasangan calon (paslon) nomor urut 1, bersilaturahmi kepada jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Klaten di gedung sierad, jalan Wijaya  Kusuma, Rabu (25/9/2024)malam.  Yoga Hardaya dan Sova Marwati memberikan kejutan berupa gambar pendiri Muhammadiyah dan Aisyiyah sebagai kenang-kenangan. Silaturahmi Yoga Hardaya kali ini bukan yang pertama, jauh sebelumnya […]

  • Taaruf 57 Calhaj di Grand Haji, Ketua IPHI Delanggu Minta Jamaah Patuhi Aturan dan Jaga Kekompakan

    Taaruf 57 Calhaj di Grand Haji, Ketua IPHI Delanggu Minta Jamaah Patuhi Aturan dan Jaga Kekompakan

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle Redaksi SieradMU
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Sieradmu.com Klaten – Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Cabang Delanggu menggelar malam ta’aruf dan pamitan haji 1447 H yang bersalangsung di Graha Anjungan Dakwah Haji (Grand Haji), Desa Krecek, Kecamatan Delanggu pada Sabtu (25/4/2025) malam. Sebanyak 57 calon jamaah haji (calhaj) dari Kecamatan Delanggu dipastikan siap menunaikan ibadah haji tahun 2026. Dari total tersebut, jamaah […]

  • Akhiri Bulan Ramadhan Dengan Sedekah, Keluarga Hariyanto Gerindra Santuni Ratusan Kaum Duafa

    Akhiri Bulan Ramadhan Dengan Sedekah, Keluarga Hariyanto Gerindra Santuni Ratusan Kaum Duafa

    • calendar_month Selasa, 9 Apr 2024
    • account_circle Redaksi SieradMU
    • visibility 817
    • 0Komentar

    Sieradmu.com Delanggu – Ratusan kaum duafa diwilayah Kecamatan Delanggu dan sekitarnya mendapatkan santunan berupa paket sembako dari Anggota DPRD Klaten yang juga Ketua DPC Partai Gerindra, Hariyanto. Satunan yang diberikan ini merupakan kali keempat selama bulan Ramadhan. Dengan membawa kupon pengambilan paket sembako, satu persatu para duafa mendatangi kediaman Hariyanto di Desa Karang Kecamatan Delanggu, […]

  • Anniversary ke-41, RSUCH Klaten Terus Tingkatkan Integritas dan Pelayanan Berkualitas

    Anniversary ke-41, RSUCH Klaten Terus Tingkatkan Integritas dan Pelayanan Berkualitas

    • calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
    • account_circle Redaksi SieradMU
    • visibility 677
    • 0Komentar

    Sieradmu.com Klaten – Puncak Anniversary ke-41 Rumah Sakit Umum Cakra Husada (RSUCH) Klaten hari ini (23/2/2025) berlangsung meriah. PT Wasaida Putra Cakra  sebagai holding yang membawahi rumah sakit tersebut menargetkan dapat melenggang ke Bursa Efek Indonesia. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama RSU Cakra Husada Klaten, dr. Surawijaya Bakhtiar Kaslam, M.Sc., Sp.PK mengatakan, puncak perayaan anniversary […]

  • Meriah Bestie, Kelompok senam Lansia RSU Cakra Husada Klaten Gelar Peringatan Hari Ibu

    Meriah Bestie, Kelompok senam Lansia RSU Cakra Husada Klaten Gelar Peringatan Hari Ibu

    • calendar_month Jumat, 20 Des 2024
    • account_circle Redaksi SieradMU
    • visibility 789
    • 0Komentar

    Sieradmu.com Klaten – Ratusan peserta mengikuti kegiatan senam lansia dalam rangka memperingati hari Ibu di halaman RSU setempat, Jum’at (20/12/2024). Kegiatan ini bagian dari komitmen peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Meskipun dalam usia yang tidak mudi lagi, nampak para peserta antusias mengikuti gerakan senam meski dengan balutan kain kebaya. Mewakili Direktur RSU Cakra Husada, Heruwanto yang […]

expand_less