Saat Hati Lelah: Nutrisi Qur’ani sebagai Penawar Kegelisahan
- account_circle Redaksi SieradMU
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sieradmu.com – Tidak semua luka terlihat. Ada yang tetap tersenyum, tetap beraktivitas, bahkan berprestasi, tetapi di dalam dirinya sedang berjuang melawan kecemasan dan kelelahan yang tak terlihat. Hal ini semakin sering terjadi di tengah kehidupan kita. Tekanan untuk terus produktif, tuntutan sosial, pekerjaan ataupun di dunia Pendidikan serta paparan dunia digital membuat manusia jarang benar-benar berhenti dan berdialog dengan dirinya sendiri, bahkan terkadang muncul overthinking. Tidak heran jika kesehatan mental menjadi isu global yang semakin mengkhawatirkan. Data dari World Health Organization (WHO) tahun 2025 menunjukkan bahwa lebih dari satu miliar orang di dunia mengalami gangguan mental, dengan kecemasan dan depresi sebagai yang paling dominan. Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan manusia hari ini tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga menyentuh sisi terdalam: jiwa dan hati.
Ketika kita perhatikan lebih dalam, masalahnya sering bukan karena kita kurang aktivitas, tapi justru karena terlalu banyak hal yang mengisi pikiran tanpa benar-benar menenangkan hati, kadang juga kita justru memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Kita terbiasa memberi makan “tubuh” makan teratur, istirahat cukup tapi sering lupa bahwa hati juga butuh asupan. Dalam Islam, hati bukan sekadar perasaan, tapi pusat kehidupan manusia. Jiwa adalah wadah karakter dan kepribadian manusia (Nurrohim, 2016). Ia punya dua sisi: ruhani dan jasadi. Ketika sisi jasadi terus dipenuhi, tapi ruhani diabaikan, maka yang muncul adalah ketimpangan dan dari situlah lahir kegelisahan.
Tidak heran jika ada orang yang secara materi mungkin sudah “cukup”, tapi tetap merasa hampa. Seorang mahasiswa bisa saja terlihat sukses, aktif organisasi, berprestasi tapi diam-diam mengalami kecemasan karena kehilangan arah. Seorang pekerja bisa punya penghasilan stabil, tapi merasa hidupnya datar dan tidak bermakna. Ini menunjukkan bahwa ketenangan tidak otomatis datang dari pencapaian duniawi. Ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang “lapar”, yaitu hati.
Dalam perspektif Islam, ketenangan jiwa itu punya sumber yang jelas. Kualitas hidup manusia ditandai oleh ketenangan jiwa yang hanya diperoleh melalui mengingat Allah. Bahkan ditegaskan bahwa hati tidak akan benar-benar tenang kecuali dengan zikrullah, dan semakin sering seseorang mengingat Allah, semakin kuat pula ketenangan yang ia rasakan (Nurrohim, 2016). Jadi, ketika hati terasa sempit, gelisah, atau tidak tenang, bisa jadi bukan karena hidup terlalu berat, tapi karena hati kurang dekat dengan sumber ketenangan itu sendiri.
Di sisi lain, Al-Qur’an juga hadir bukan hanya sebagai kitab suci, tapi juga sebagai “penunjuk jalan” bagi jiwa manusia. Ia membimbing dari kegelapan menuju pencerahan, memberi arah di tengah kebingungan hidup (Nurrohim, 2019). Bahkan, pemilihan bahasa Arab dalam Al-Qur’an memiliki kekuatan tersendiri dalam menyampaikan pesan yang dalam dan menyentuh hati (Nurrohim, 2019). Itulah mengapa banyak orang merasa lebih tenang hanya dengan membaca atau mendengarkannya. Karena yang disentuh bukan hanya pikiran, tapi juga jiwa.
Dalam perjalanan hidup manusia, ada satu kondisi ideal yang disebut mutmainnah, yaitu jiwa yang tenang (Nurrohim, 2019). Bukan berarti hidupnya tanpa masalah, tapi hatinya stabil. Ia tetap bisa berpikir jernih, tidak mudah panik, dan punya pegangan yang kuat. Ini penting, apalagi di zaman sekarang yang serba tidak pasti.
Kalau kita tarik ke konsep “nutrisi hati”, maka menjaga kesehatan mental sebenarnya adalah tentang bagaimana kita merawat hati itu sendiri. Sama seperti tubuh butuh makanan bergizi, hati juga butuh “asupan” yang tepat. Kalau tidak, ia akan lemah, bahkan bisa mati dan di situlah manusia mulai kehilangan arah hidup. Cara menutrisi hati sebenarnya sederhana, menurut kitab “Tazkiyatun Nufus” yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Ibnu Rajab Al Hambali dan Imam Al Ghazali menyampaikan ada beberapa cara untuk menutrisi hati yaitu:
- Berdzikir kepada Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Dzikir bagi hati, ibarat air bagi ikan. Apa jadinya bila ikan dikeluarkan dari Air?” Dzikir itu seperti makanan pokok bagi hati dan ruh. Dzikir juga mampu mengusir syaitan dan menurunkannya. Dzikir juga merupakan obat kerasnya hati. Serta berdzikir secara kontinu berarti memperbanyak usaha untuk selalu menyaksikan hari akhir.
- Membaca Al-Qur’an. Al- Qurán mengandung keterangan dan penjelasan jelasan yang tegas tentang kebenaran dan kebatilan. Ia juga mengandung hikmah dan Pelajaran yang baik sebagai Penawar bagi penyakit syahwat.
- Istighfar. Memohon maghfirah. Maghfirah adalah penjagaan dari akibat buruk dosa – dosa dan penutupan atasnya. Al – Qurán menyebut istighfar bersamaan dengan taubat. Karena jika lafat itu terkumpul maka istighfar artinya permohonan dengan lisan sementara taubat berhenti dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dengan hati dan anggota badan.
- Doá. Allah menjadikan permohonan hamba atas kebutuhannya sebagai bentuk beribadah kepada-Nya. Dia juga memerintahkannya dan mencela siapa-siapa yang meningalkannya dengan celaan yang keras dan menggolongkan sebagai orang yang sombong. Ada sebuah syair yang artinya, “Janganlah kamu meminta kebutuhan kepada anak adam, mintalah kepada yang pintu-pintu-Nya tak pernah tertutup. Allah akan murka jika kamu meninggalkan bermohon kepada-Nya. Sedangkan anak Adam, akan murka jika kamu memohon kepadanya”
Kalau empat hal ini dilakukan secara konsisten, dampaknya bukan cuma terasa secara spiritual, sebagai bentuk self-healing yang paling mendasar, bukan sekadar mengalihkan diri, tapi benar-benar menyembuhkan dari dalam. Sebab, maraknya masalah kesehatan mental hari ini sebenarnya memberi satu pesan penting: manusia tidak cukup hanya “hidup” secara fisik, tapi juga harus hidup secara batin. Ketika hati terabaikan, hidup akan terasa berat, meskipun secara lahir terlihat baik-baik saja. Sebaliknya, ketika hati ternutrisi dengan dzikir, Al-Qur’an, istighfar, dan doa, maka jiwa akan menemukan ketenangannya. Pada akhirnya, yang kita cari dalam hidup bukan hanya kesuksesan, tapi ketenangan. Dan ketenangan itu, ternyata, tidak jauh, ia ada, selama kita mau kembali mendekat kepada-Nya.
Penulis : Tri Astuti Rejeki Handayani – Mahasiswi Prodi Ilmu Al Qurán dan Tafsir (IQT) – UMS
- Penulis: Redaksi SieradMU
