LIMBAH GRAJEN DISULAP JADI BATA MERAH RAMAH LINGKUNGAN DI DESA SENDEN
- account_circle admin
- calendar_month Sabtu, 9 Agt 2025
- visibility 358
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Muhammad Ujianto, Alfia Magfirona, Muzakar Isa
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta
Lokasi Pengabdian: Desa Senden, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Mitra: Triyono – Kelompok Pengrajin Mebel Senden Jaya
Hibah Program Pengabdian kepada Masyarakat DPPM TA 2025 Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan.

Dalam upaya menciptakan solusi berkelanjutan terhadap permasalahan limbah industri, tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan pendanaan Hibah Program Pengabdian kepada Masyarakat DPPM TA 2025 Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan menginisiasi program pemanfaatan limbah grajen (serbuk kayu) sebagai bahan campuran pembuatan batu bata merah ramah lingkungan di Desa Senden, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Program ini bermitra dengan kelompok pengrajin mebel Senden Jaya, yang dipimpin oleh Triyono, dan bertujuan mengubah limbah menjadi material konstruksi bernilai ekonomi serta ramah lingkungan. Program dimulai dengan kegiatan sosialisasi dan pendampingan teknis sehingga memiliki efisiensi produksi bata, dan peluang pemasaran produk bata ramah lingkungan.
Latar Belakang
Desa Senden memiliki potensi besar dalam industri pengolahan kayu. Limbah berupa serbuk grajen menjadi beban lingkungan sering kali hanya dibuang, dibiarkan membusuk atau dibakar, menyebabkan pencemaran lingkungan. Di sisi lain, produksi batu bata merah yang masih bergantung pada tanah liat menghadapi tantangan dari sisi keberlanjutan bahan baku. Oleh karena itu, pemanfaatan limbah grajen sebagai bahan campuran batu bata menawarkan solusi ekologis dan ekonomis. Grajen kedepan akan menjadi komoditas bernilai setelah diolah menjadi campuran pembuatan bata merah ramah lingkungan.

Dari Sampah Menjadi Sumber Daya
Selama puluhan tahun, usaha mebel di Desa Senden menghasilkan tumpukan serbuk kayu sebagai produk sampingan. Bagi banyak pengrajin, penumpukan limbah ini awalnya hanya diabaikan disimpan di pekarangan, dibakar, atau dibuang ke lahan kosong. Praktik pembuangan dan pembakaran limbah ini memberi dampak negatif berupa pencemaran udara, gangguan kesehatan pernapasan, dan estetika lingkungan yang menurun.
“Setiap minggu kami mengeluarkan puluhan karung serbuk kayu yang menumpuk. Kalau tidak dikelola, jelas mengganggu.” ujar Triyono, ketua Kelompok Pengrajin Mebel Senden Jaya. Ia menambahkan bahwa upaya mengelola limbah sebelumnya belum tersentuh teknologi yang sederhana dan terjangkau. Kehadiran tim UMS membuka jalan menuju pemikiran baru: melihat limbah sebagai bahan baku. Tim peneliti dan pengabdian mengidentifikasi karakteristik serbuk kayu organis, mudah terbakar, dan bersifat ringankan massa material sehingga cocok untuk dicampur dalam proses pembuatan bata. “Serbuk kayu menciptakan rongga mikro saat proses pembakaran, sehingga bata menjadi lebih ringan dan memiliki sifat insulasi panas yang lebih baik.,” jelas Muhammad Ujianto, anggota tim PkM UMS.
Metodologi Kegiatan
Kegiatan ini diawali dengan pemetaan potensi limbah serbuk kayu, pelatihan teknis kepada pengrajin, uji coba campuran bahan, hingga analisis kualitas hasil bata. Proporsi grajen yang digunakan bervariasi antara 3% hingga 20% dari total campuran bahan, untuk mengukur dampaknya terhadap kekuatan dan porositas bata.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Inovasi ini tidak hanya mengurangi limbah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga. Kelompok Mebel Senden Jaya dapat memanfaatkan limbah grajen dan mampu memproduksi bata ramah lingkungan yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Kegiatan ini juga mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya daur ulang limbah.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Pemanfaatan limbah grajen serbuk kayu untuk bata merah adalah sebagai solusi tepat guna, murah, dan mudah diterapkan. Diperlukan pendampingan lanjutan, standardisasi proses produksi, serta dukungan kebijakan dari pemerintah desa untuk memperluas dampaknya.
- Penulis: admin
