Seminar Nasional Great How to Be Teacher, Syafii Efendi Bongkar Rahasia Jagi Guru Preneur
- account_circle Redaksi SieradMU
- calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
- visibility 382
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sieradmu.com Klaten – Ribuan guru dari berbagai jenjang pendidikan memadati Gedung Sunan Pandanaran Kabupaten Klaten untuk mengikuti Seminar Nasional Great How to Be Teacher. Kegiatan ini digelar sebagai upaya mendorong peningkatan kualitas pendidik di kota bersinar.
Seminar yang mengusung tema “Pengajar Belum Tentu Mengajar, tetapi Mampu Menginspirasi” ini diselenggarakan Teacher Preneur Nusantara bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Klaten, Kementrian Agama, Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Majelis Dikdasmen PNF dan Pemuda Muhammadiyah. Seminar dibuka Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo pada Rabu (14/1/2026)pagi.
Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Klaten melalui Kasi Pendidikan Madrasah, Agus Susanto mengapresiasi kegiatan ini, Seminar tidak hanya menjadi ajang pemenuhan kewajiban administratif, melainkan juga ruang refleksi dan penguatan peran strategis guru dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Untuk meningkatkan perannya, para guru tidak cukup hanya sebatas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga harus mampu menjadi inspirator dan motivator bagi peserta didik”,katanya.
Kegiatan ini menurutnya sangat relevan untuk para guru dalam memberikan energy semangat terhadap peningkatan kapabilitas, kompetensi dalam mengajar menjadikan anak didik cerdas, berkarakter menuju Indonesia Emas.

Seminar tersebut menghadirkan International Certified Coach Entrepreneur, Syafii Efendi, MM, sebagai pembicara utama. Dalam paparannya, Syafii menyoroti dua persoalan mendasar yang masih dihadapi para guru, yakni kesejahteraan ekonomi dan penguatan kapabilitas diri.
“Gaji guru honorer sebesar Rp200 ribu per bulan sangat memprihatinkan dan tidak relevan dengan kebutuhan hidup,” katanya.
Sebagai solusi, Syafii mendorong para guru agar tidak hanya bergantung pada gaji pokok. Menurutnya, guru perlu mulai melihat peluang di bidang kewirausahaan tanpa meninggalkan profesi utamanya sebagai pendidik.
“Kewirausahaan bukan sekadar pekerjaan tambahan, tetapi soal mindset. Guru itu hebat, hanya saja sering kali tidak menyadari potensi besar yang dimiliki,” katanya.
Ia mencontohkan, guru dapat membuka kursus membaca, menulis, dan berhitung (calistung) atau kursus bahasa Inggris secara profesional di luar jam mengajar. Dengan pengelolaan yang tepat, peluang tersebut dinilai mampu memberikan tambahan penghasilan yang signifikan.
“Kalau memahami ilmunya dan dikelola dengan baik, hasilnya bisa besar,” ujarnya.
Melalui penguatan keterampilan dan jejaring, Syafii optimistis para guru di Klaten mampu berdaya secara mandiri. Menurutnya, perubahan pola pikir akan berdampak langsung pada perubahan perilaku dan peningkatan kesejahteraan.
“Ketika mindset berubah, perilaku ikut berubah. Dampaknya, kesejahteraan juga akan terangkat,” pungkasnya. (nur)
- Penulis: Redaksi SieradMU
