Respon Cepat Gagasan Kemenag RI, PD IGRA Klaten Gelar Workshop Penerapan 5 Pilar KBC
- account_circle Redaksi SieradMU
- calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
- visibility 292
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sieradmu.com Klaten – Ribuan guru Roudhlotul Athfal dan Bustanul Athfal di Kabupaten Klaten mengikuti Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digagas Kementrian Agama Republik Indonesia berlansung di Gedung Al-Ikhlas, Kantor Kementrian Agama Klaten, 12-13 Mei 2026. Implementasi Kurikulum Cinta diharapkan dapat membawa perubahan nyata dalam kehidupan sosial, baik dalam konteks keagamaan, hubungan kemanusiaan, maupun keberagaman bangsa.
Ketua PD IGRA Kabupaten Klaten, Sri Suryati menerangkan workhshop Implementasi Kurikulum Cinta dengan tema peningkatan kompetensi pendidik RA dalam mewujudkan pembelajaran yang berkualitas ini, diikuti 478 peserta dari Kepala Sekolah dan perwakilan guru RA, BA di Kabupaten Klaten yang dibagi dalam dua hari. Narasumber yang dihadirkan adalah Isna Rokhmawati S.Pd.M.Pd.I yang merupakan Asesor BAN PDM dan Doktor Sumarna.M.A, BAN PDM Jawa Tengah sekaligus Pengawas Pendidikan dilingkungan Kemenag Klaten.
“Dengan workshop ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi, profesionalisme pendidik RA, BA dilingkungan Kemenag Kabupaten Klaten, guna mewujudkan pendidikan yang berkualitas di lembaga RA, BA hingga mampu berdaya saing, harapannya KBC ini dkan berdampak pada RA, BA dengan penanaman karakter akhlakhul kariman pada peserta didik dengan lima pilar utama yang ada yaitu cinta kepada Allah dan Rosul, cinta terhadap ilmu, cinta kepada lingkungan, cinta kepada sesama dan diri sendiri serta cinta kepada bangsa dan negara. Keberhasilan kurikulum ini tidak hanya akan diukur dari aspek kognitif, tetapi juga dari perubahan sikap dan perilaku peserta didik”,katanya.
Narasumber sekaligus Pengawas Pendidikan dilingkungan Kemenag Klaten, Isna Rokhmawati menerangkan, regulagi KBC ini diantur dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025 dan dijabarkan secara rinci dalam Panduan KBC melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025.
“Kurikulum ini dirancang untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 dengan mencetak generasi yang cerdas intelektual, berintegritas, serta memiliki kepekaan empati yang tinggi. Hal Ini menjadi inisiatif dalam pengembangan pendidikan agama dan keagamaan yang bertujuan menanamkan nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa sejak usia dini”,terangnya.
Dijelaskan,Kurikulum Cinta tidak diperkenalkan sebagai mata pelajaran baru, melainkan akan diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran yang sudah ada. Kementerian Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam telah menyiapkan buku panduan yang akan menjadi acuan bagi para pendidik dalam menyisipkan nilai-nilai cinta, toleransi, dan spiritualitas ke dalam pembelajaran.
“Strategi implementasi kurikulum ini akan disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Misalnya, di tingkat Pendidikan Raudhatul Athfal (RA/PAUD), metode pembelajaran akan menggunakan permainan dan pembiasaan positif. Sementara itu, di jenjang pendidikan lebih tinggi, pendekatan berbasis pengalaman dan refleksi akan lebih ditekankan.

Doktor Sumarna, yang juga narasumber workhsop mengungkapkan, dalam pelaksanaan workhsop ini para peserta akan terlebih dahulu mendapatkan materi terkait growth mindset, bagaimana peserta memiliki kemampuan dan kepercayaan diri untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki melalui usaha, dedikasi dan ketekunan dalam belajar. Impelentasi ini akan ada insersi antara deep learning dan KBC, perpaduan antara kebijakan Kemendikdasmen dan Kementrian Agama RI.
“Dari pemahaman ini peserta nanti kan didorong untuk dapat menyusun perangkat pembelajaran, asesment pembelajaran melalui hasil insersi antara pendekatan mendalam dan KBC, outputnya dari kemampuan para pendidik meng implementasikan kurikulum ini, akan melahirkan siswa yang cerdas secara akademik dan memiliki karakter akhlak yang kuat dengan lima pilar utama dalam KBC”,ungkapnya.
Kepala Kemenag Klaten, Khumaidin menyebut saat ini masih terdapat fenomena sejumlah pelajar yang menunjukkan sikap intoleran, saling menyalahkan, bahkan membenci satu sama lain karena perbedaan keyakinan. pendidikan karakter di Indonesia membutuhkan inovasi yang lebih mendalam, salah satunya melalui pendekatan yang lebih integratif dan sistematis dalam kurikulum.
“ Kurikulum Cinta hadir sebagai solusi melalui insersi nilai-nilai keberagaman dalam berbagai mata pelajaran, khususnya dalam pendidikan Islam di bawah naungan Kementerian Agama”,terangnya. (Nur)
- Penulis: Redaksi SieradMU
