Khotib Sholat Idul Adha di Masjid Al-Aqsha, Ketua PDM Klaten : Kurban Menjadi Momentum Memperkuat Kesalehan Sosial
- account_circle Redaksi SieradMU
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 39
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
sieradmu.com Klaten – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah ( PDM ) Klaten Iskak Sulistyo, menyampaikan bahwa perayaan Idul Kurban merupakan manifestasi nyata kepedulian sosial terhadap sesama anak bangsa.
Hal itu disampaikan Iskak Sulistyo saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Masjid Al-Aqsha Klaten, Rabu ( 27/5/2026. )
Menurutnya, ibadah kurban tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas, berbagi, dan mengurangi kesenjangan sosial di tengah masyarakat.
“Idul Kurban mengajarkan kita untuk peduli. Daging kurban yang dibagikan adalah wujud nyata bahwa tidak ada yang boleh ditinggalkan dalam merayakan kebahagiaan. Ini adalah wujud kepedulian sosial kita sebagai satu bangsa,” ujarnya.
Iskak berharap semangat berkurban dapat terus hidup sepanjang tahun, tidak hanya pada hari raya, agar kepedulian terhadap sesama menjadi budaya yang mengakar di masyarakat.
Maka qurban sejatinya adalah pengorbanan ego, inti ibadah qurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi menundukkan “aku” dalam diri kita.
“Ego sering muncul dalam bentuk keinginan untuk selalu diutamakan, rasa berat untuk berbagi, kecintaan berlebihan pada harta dan sikap merasa lebih tinggi dari orang lain” katanya.
Melalui qurban kata Iskak seseorang dilatih untuk melepaskan keterikatan tersebut. Ia mengeluarkan harta yang dicintai, bukan karena terpaksa, tetapi karena ketaatan kepada Allah. Ini adalah bentuk nyata melawan ego yang cenderung menahan dan memiliki.
“Puncak kebaikan justru lahir saat seseorang mampu mengalahkan egonya. Maka, qurban pada hakikatnya menjadi latihan spiritual untuk mengendalikan diri, merendahkan hati dan menumbuhkan kepedulian.” kata Syamsuddin Asyrofi.
Ketika ego berhasil “disembelih”, maka yang muncul adalah keikhlasan, empati, dan semangat berbagi. Sekali lagi, demikian itulah hakikat qurban yang sesungguhnya. (Nur)
- Penulis: Redaksi SieradMU
