Jejak Waktu dalam Al-Qur’an: Antara Amanah, Lalai dan Keselamatan
- account_circle Redaksi SieradMU
- calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
- visibility 53
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hari ini harus lebih baik dari kemarin, harapanku. Faktanya, kita seringkali bergumam dalam diri, “hmm nanti dulu ah mengerjakannya ya, agak siangan” saat siang, “malam aja ah murojaahnya sekalian belajar” eh saat malam, “kok sudah malam saja? Capek sekali seharian ini” Banyak orang hari ini merasa lelah bukan karena terlalu banyak pekerjaan, melainkan karena waktu yang habis di tempat yang tidak seharusnya. Berawal membuka ponsel sebentar, tiba-tiba ber jam – jam berlalu karena scroll-scroll mensos yang tidak penting. Menunda sebentar tugas, tahu-tahu sudah mendekati batas waktu. Hari-hari berjalan cepat, tetapi yang tertinggal justru rasa kosong, seolah ada yang hilang tanpa sempat disadari. Kita hidup, bergerak, bahkan sibuk, tetapi tidak selalu benar-benar memanfaatkan waktu. Di titik inilah, tanpa terasa, waktu Adalah pedang. Jika kita tidak menggunakan dengan baik maka kita akan tertebas oleh tajamnya pedang tersebut.
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ Artinya: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadits tersebut mengingatkan kita bahwa memang benar ya kalau waktu itu sering kita abaikah. Apalagi jika tubuh sehat, seakan akan kita justru terlena. Padahal keduanya adalah nikmat terbesar yang dimiliki manusia. Dalam realitas kehidupan saat ini, banyak orang mengeluhkan kesibukan, kelelahan, bahkan kegagalan, namun tanpa sadar mereka sendiri yang menyia-nyiakan waktu yang dimiliki. Hal ini sangat mudah ditemukan, mulai dari kebiasaan menunda pekerjaan, terlalu lama bermain media sosial, hingga kurangnya prioritas dalam menjalani aktivitas harian. Padahal waktu sangat berharga bagi orang-orang yang dapat menghargainya (Nurrohim, 2019). Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam: bahwa waktu itu sangat berharga, Betapa bodoh diri ini, ketika melewatkan hal yang begitu berharga bernama waktu
Allah Subhanahu Wa Taála telah memberikan peringatan yang sangat jelas terkait pentingnya waktu. Manusia diperintahkan untuk mengelola waktu dengan bijaksana agar tidak mengalami kerugian (Anggraini, 2020). Ini menunjukkan bahwa waktu bukan sekadar sesuatu yang berjalan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Ketika waktu tidak digunakan dengan baik, maka kerugian bukan hanya bersifat duniawi, tetapi juga berdampak pada kehidupan spiritual. Lebih jauh lagi, Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup telah memberikan arah yang jelas bagi manusia. Al Qurán Adalah kitab samawi yang menunjukkan jalan lurus dari kegelapan menuju pencerahan. Banyak orang mengetahui pentingnya waktu secara teori, tetapi gagal dalam praktik karena kurangnya kesadaran dan kedisiplinan. Hal ini menunjukkan bahwa memahami nilai waktu saja tidak cukup, tetapi perlu diiringi dengan implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dampak dari melalaikan waktu tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi juga secara sosial. Kita sebagai Muslim yang tidak disiplin akan sulit dipercaya, kurang produktif, dan cenderung tertinggal dibandingkan orang lain yang mampu memanfaatkan waktunya dengan baik. Dalam konteks yang lebih luas, masyarakat yang tidak menghargai waktu akan mengalami stagnasi dan sulit berkembang. Inilah mengapa Islam menekankan pentingnya waktu melalui berbagai ajaran, salah satunya dalam surat al ‘Ashr.
Implementasi nilai-nilai dalam surat al ‘Ashr memberikan gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana seharusnya manusia memanfaatkan waktu. Waktu adalah amanah yang harus diisi dengan perbuatan baik, serta diiringi dengan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran (Nurrohim, 2019). Ini berarti bahwa pemanfaatan waktu tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif. Manusia tidak cukup hanya memperbaiki diri sendiri, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mengajak orang lain kepada kebaikan.
Setelah pertolongan Allah, kesabaran menjadi salah satu kunci utama dalam mengelola waktu. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia pasti akan menghadapi berbagai cobaan dan tantangan. Oleh karena itu, kesabaran bukan sekadar sikap pasif, tetapi merupakan kekuatan untuk tetap konsisten dalam menjalani proses. Ketekunan dan kesabaran merupakan faktor yang sangat penting dalam mencapai tujuan (Fathurohman & Nurrohim, 2024). Tanpa kesabaran, seseorang akan mudah menyerah dan kembali pada kebiasaan buruk, termasuk dalam hal menyia-nyiakan waktu.
Hal ini sangat relevan dalam proses menghafal Al-Qur’an. Banyak orang yang memulai dengan semangat tinggi, tetapi kemudian berhenti di tengah jalan karena merasa sulit atau tidak melihat hasil yang instan. Padahal, dalam proses tersebut, rintangan adalah sesuatu yang pasti akan ditemui (Nurrohim, 2019). Jika seseorang tidak memiliki kesabaran dan manajemen waktu yang baik, maka proses tersebut akan terhenti. Sebaliknya, dengan kesabaran dan konsistensi, sedikit demi sedikit hafalan akan bertambah dan menjadi investasi yang sangat berharga.
Pada akhirnya, Allah Subhanahu Wa Taála telah menegaskan bahwa waktu adalah milik-Nya dan manusia akan merugi jika tidak mampu mengelolanya dengan baik. Kerugian ini bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk berbuat kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, terdapat empat hal mendasar yang harus dilakukan manusia agar dapat memanfaatkan waktu dengan baik, yaitu beriman, beramal saleh, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran (Anggraini, 2020). Solusi nyata dalam memanfaatkan waktu dapat dimulai dari hal-hal sederhana, yaitu:
- Berdoá, memohon pertolongan Allah. Agar Allah memberika kemudahan untuk kita dalam bersabar dan bijak mengelola waktu.
- Membuat perencanaan harian, setiap pagi kita bisa menuliskan jadwal di hari itu apa target kita di hari itu. Baik kegiatan di kantor, di kampus bahkan di rumah agar setiap waktu memiliki tujuan yang jelas, terstruktur dan tertata.
- Manajemen aktivitas yang tidak bermanfaat, seperti penggunaan media sosial yang berlebihan. Boleh saja kita bermain handphone tapi pastikan ini hanya di jam istirahat atau menggunakan dengan bijak agar tidak berlarut dalam dunia maya.
- Membangun kebiasaan disiplin dengan memulai dari hal kecil, seperti tepat waktu dalam menjalankan ibadah dan menyelesaikan tugas.
- Mencari lingkungan yang mendukung, karena saling mengingatkan dalam kebaikan merupakan bagian penting dalam menjaga konsistensi.
Dengan demikian, waktu bukan hanya sekadar angka yang terus berjalan, tetapi amanah yang menentukan kualitas hidup manusia. Mereka yang mampu menghargai waktu akan mendapatkan keberkahan dan kesuksesan, sementara mereka yang lalai akan menghadapi kerugian yang nyata. Oleh karena itu, sudah saatnya setiap muslim mulai merefleksikan bagaimana ia menggunakan waktunya, karena pada akhirnya, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.
Penulis Tri Astuti Rejeki Handayani (Mahasiswi UMS)
- Penulis: Redaksi SieradMU
